Rabu, 03 Juni 2015

Pangkalan Ojek Seven Eleven Pertigaan Syahdan

Pangkalan ojek terakhir yang kami kunjungi adalah Pangkalan Ojek pertigaan Syahdan depan 7Eleven.
Saat kami sampai disana, banyak sekali motor yang sudah terparkir, namun kami hanya menjumpai 1 orang yang sedang duduk sambil merokok, seperti nya sedang menunggu penumpang yang ingin mencari ojek. Saat melihat kami yang ramai mengunjungi, orang tersebut terlihat antusias dengan kedatangan kami dan menanyakan apa yang ingin kami lakukan.
Kami kemudian menjelaskan kami ingin melakukan sedikit survey dan penyuluhan mengenai tertaib lalulintas. Dan orang tersebut merespon apa yang ingin kami lakukan dengan sangat baik.
Bapak tersebut bernama Pak Indra, beliau telah menjadi tukang ojek selama 5 tahun. Beliau merupakan orang asal Jawa Tengah, mengaku merantau ke Jakarta dengan pemikiran bahwa kehidupan di Jakarta lebih menjanjikan.
Kemudian kami bertanya seputar keguatan ojek dia. Pak Indra mengaku bahwa penghasilan nya sehari bisa mencapai 100.000 sampai dengan 150.000 ribu rupiah. Dan tempat tujuan ojek dia pun terkadang sampai dengan tempat yang lumayan jauh seperti ke Jakarta Utara.
Kami menyampaikan makdus kedatangan kami ingin memberikan penyuluhan mengenai tertib lalu lintas, mengingat sering nya beliau menggunakan jalan raya setiap harinya. Mereka ini lah orang yang berperan dalam tertib nya lalu lintas. 
Beliau mengaku bahwa dia termasuk orang yang lumayan sering melanggar lalu lintas karena tidak sabaran. Salah satu alasan nya sering melanggar lalu lintas adalah terkadang dia mengikuti pengguna jalan lain yang juga melanggar. Kami sampai kan hal tersebut tidak baik dilakukan, bahwa semakin kita melanggar lalu lintas, maka tidak akan berkesudahan kemacetan di jalan. Belum lagi jika ada polisi yang sedang partoli, kemungkinan mereka dapat di tilang.

Pangkalan Ojek Love Tea

Sosialisasi pangkalan ojek yang kami lakukan akhirnya tiba pada hari ketiga, tanggal 13 Mei 2015. Kali ini kami mnedatangin pangkalan ojek di depan Love Tea, yang memang setiap kali saya lewat sangat banyak tukang ojek yang sedang mangkal. Kemudian siang itu kami langsung mendatangi pangkalan ojek tersebut.
Memang banyak motor yang terparkir di sana, ntah apa kah itu motor pengunjung love tea ataukah memang milik para tukang ojek. Kami bertemu dengan 2 orang tukang ojek lalu kami menyampaikan maksud kami datang hari itu adalah ingin memberikan penyuluhan singkat mengenai tertib lalu lintas.
Namun salah satu dari tukang ojek tersebut yang bernama Bapak Joko menolak untuk di wawancarai dan kemudian dia memisahkan diri.
Akhirnya sisa 1 orang yang bernama Bapak Ilham yang mendengarkan kami menjelaskan sedikit mengenai apa yang harus kami sampaikan
Pertama-tama kami bertanya mengenai keseharian yang di lalui Bapak Ilham. Mulai dari jam berapa beliau mulai narik ojek. Dia mengatakan bahwa dia narik ojek dari jam 6 pagi sampai 8 malam. Beliau tinggal di daerah Palmerah, dekat dengan Pasar Bunga, sehingga tempat mangkal dia di sini dekat dengan tempat tinggalnya.
Penghasilan yang di dapatkan lumayan, walaupun dia tidak menyebutkan jumlah nya. Sehari bisa mendapat kira-kira 4-7 penumpang.
Kemudian kami mulai memberikan penyuluhan. Kami mengatakan bahwa beliau dan teman-teman nya memiliki partisipasi cukup besar dalam menggunakan jalan raya di Jakarta, apalagi daerah sekitar Binus. Kita tau seperti apa macet nya daerah Binus di hari-hari biasa. Penyebab banyak nya kemacetan adalah banyaknya volume kendaraan dan juga banyak pengguna jalan yang tidak tertib lalu lintas, menyebrang sembarangan, menerobos lampu merah, tidak mengikuti rambu lalu lintas seperti seharusnya dan sebagainya.
Kami menjelaskan juga bahwa sebagai pengguna jalan yang cukup aktif, sebaiknya mereka mematuhi lalu lintas dan mengikuti rambu lalu lintas agar dapat mengurangi kemacetan jalan raya juga menjaga keselamatan penumpang nya maupun dirinya sendiri.
Bapak Ilham mendengarkan dengan seksama apa yang kami bicarakan. Dia mengaku bahwa sering kali dia kesal dengan orang yang mengendarai motor ugal-ugalan dan menyelip sembarangan. Apalagi orang yang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, itu merupakan hal yang sangat berbahaya.
Setelah berbincang-bincang sekian lama kemudian kami meminta foto bersama sebagai bentuk dokumentasi. Bapak Ilham malu untuk foto sendiri bersama kami akhirnya dia memanggil rekan nya, Bapak Joko untuk berfoto bersama kami.