Sosialisasi pangkalan ojek yang kami lakukan akhirnya tiba pada hari ketiga, tanggal 13 Mei 2015. Kali ini kami mnedatangin pangkalan ojek di depan Love Tea, yang memang setiap kali saya lewat sangat banyak tukang ojek yang sedang mangkal. Kemudian siang itu kami langsung mendatangi pangkalan ojek tersebut.
Memang banyak motor yang terparkir di sana, ntah apa kah itu motor pengunjung love tea ataukah memang milik para tukang ojek. Kami bertemu dengan 2 orang tukang ojek lalu kami menyampaikan maksud kami datang hari itu adalah ingin memberikan penyuluhan singkat mengenai tertib lalu lintas.
Namun salah satu dari tukang ojek tersebut yang bernama Bapak Joko menolak untuk di wawancarai dan kemudian dia memisahkan diri.
Akhirnya sisa 1 orang yang bernama Bapak Ilham yang mendengarkan kami menjelaskan sedikit mengenai apa yang harus kami sampaikan
Pertama-tama kami bertanya mengenai keseharian yang di lalui Bapak Ilham. Mulai dari jam berapa beliau mulai narik ojek. Dia mengatakan bahwa dia narik ojek dari jam 6 pagi sampai 8 malam. Beliau tinggal di daerah Palmerah, dekat dengan Pasar Bunga, sehingga tempat mangkal dia di sini dekat dengan tempat tinggalnya.
Penghasilan yang di dapatkan lumayan, walaupun dia tidak menyebutkan jumlah nya. Sehari bisa mendapat kira-kira 4-7 penumpang.
Kemudian kami mulai memberikan penyuluhan. Kami mengatakan bahwa beliau dan teman-teman nya memiliki partisipasi cukup besar dalam menggunakan jalan raya di Jakarta, apalagi daerah sekitar Binus. Kita tau seperti apa macet nya daerah Binus di hari-hari biasa. Penyebab banyak nya kemacetan adalah banyaknya volume kendaraan dan juga banyak pengguna jalan yang tidak tertib lalu lintas, menyebrang sembarangan, menerobos lampu merah, tidak mengikuti rambu lalu lintas seperti seharusnya dan sebagainya.
Kami menjelaskan juga bahwa sebagai pengguna jalan yang cukup aktif, sebaiknya mereka mematuhi lalu lintas dan mengikuti rambu lalu lintas agar dapat mengurangi kemacetan jalan raya juga menjaga keselamatan penumpang nya maupun dirinya sendiri.
Bapak Ilham mendengarkan dengan seksama apa yang kami bicarakan. Dia mengaku bahwa sering kali dia kesal dengan orang yang mengendarai motor ugal-ugalan dan menyelip sembarangan. Apalagi orang yang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, itu merupakan hal yang sangat berbahaya.
Setelah berbincang-bincang sekian lama kemudian kami meminta foto bersama sebagai bentuk dokumentasi. Bapak Ilham malu untuk foto sendiri bersama kami akhirnya dia memanggil rekan nya, Bapak Joko untuk berfoto bersama kami.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar